Home / Berita / EBT / Nasional

Rabu, 18 Agustus 2021 - 08:43 WIB

PLTS Atap Kejar Target Bauran Energi Nasional 2025

Solar Rooftop (Doc arstechnica)

Solar Rooftop (Doc arstechnica)

PABUMNews – Pemerintah mendorong PLTS Atap untuk kejar target bauran energi nasional 2025. Untuk itu pemerintah rencananya akan melakukan perubahan peraturan penggunaan PLTS Atap oleh konsumen PLN. Sehingga ke depan listrik dari PLTS dapat dibeli oleh PLN.

Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian ESDM berencana untuk merubah aturan terkait PLTS. Aturan tersebut adalah Permen ESDM No. 49/2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Tujuan perubahan ini adalah untuk mengejar target bauran energi nasional dari Energy Baru Terbarukan (EBT). Harapan dari perubahan ini adalah mendorong investasi baik perorangan maupun instansi atau perusahaan untuk mengembangkan dan meningkatkan jumlah pemasangan PLTS Atap. Agar di tahun 2025 bauran EBT mencapai 23 persen dari total penyediaan energi listrik nasional.

Kebijakan ini di satu sisi akan menarik bari masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemanfaatan PLTS Atap. Selain insentif khusus bagi warga yang memasang PLTS Atap, listrik yang dihasilkan bisa di jual langsung ke PLN.

Baca Juga  Mannvit Susun Rencana Mitigasi Kerak Silika Dieng

Di sisi lain, kebijakan ini akan menimbulkan sedikit perdebatan terkait pembelian listrik PLTS Atap oleh PLN. Dalam hal ini pemerintah dianggap terburu-buru. Aturan mengenai pembelian listrik dari PLTS ke depannya dikhawatirkan akan membebani PLN.

Menurut Hasanuddin pemerhati EBT sekaligus Ketua Asosiasi Daerah Penghasil Panas Bumi Indonesia kepada PABUMNews menyampaikan bahwa ke depan akan ada kerancuan dalam aturan pembelian listrik jika PLTS Atap listriknya di beli PLN.

Selain itu menurut Hasanuddin, listrik dari tenaga surya sangat bergantung pada cahaya matahari, sehingga rasio pembangkitan listriknya masih rendah. Bayangkan saja bila memasuki masa penghujan dan matahari tertutup oleh awan, maka PLTS Atap tidak bisa produksi.

Alangkah lebih baik pemerintah mendorong PLTS Atap sebagai energi alternatif untuk pengurangan kebutuhan listrik nasional. Bukan menjadikan PLTS Atap sebagai sumber energi utama, tambahnya.

Baca Juga  Kadin Sebut Regulasi Berubah-ubah Perburuk Investasi EBT di Indonesia

Menurutnya, antara tambahan kapasitas pembangkitan listrik dan pengurangan konsumsi listrik dengan penggunaan PLTS Atap tentu hasilnya akan sama. Namun memang untuk pemasangan PLTS Atap memerlukan investasi pribadi serta pengetahuan teknis mengenai PLTS.  Pemerintah melalui Kementerian ESDM seharusnya lebih mendorong peningkatan pengetahuan teknis masyarakat pada bidang PLTS. Sehingga masyarakat jadi lebih tertarik untuk memasang PLTS Atap.

Dalam kesempatan tersebut, Hasanuddin sebagai Ketua ADPPI turut mendukung program Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya (Gerilya). “Kami mendukung penuh program Gerilya Kementerian ESDM dan Kemendikbud Ristek. Harapan Kami ADPPI, Kementerian ESDM juga membuat program yang sama seperti program Gerilya untuk Panas Bumi. Tujuan utamanya tentu saja untuk sosialisasi pemanfaatan panas bumi. Apalagi saat ini banyak masyarakat yang berbeda pandangan dan menolak aktivitas pemanfaatan panas bumi di berbagai wilayah kerja”. (hn).

 

 

Berita ini 142 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita

Indonesia dan Australia Tandatangani Pengembangan Panas Bumi 25 GW

Berita

Siap-siap, Lapangan Kerja di Sektor EBT akan Makin Meningkat

Berita

Bali Bersiap Jadi Pulau Bersih Ramah Lingkungan

Berita

Gugatan Ditolak PHI SPNCI Timbang-timbang Ajukan Kasasi

Berita

Terkait Pandemi, Tahun Ini Forum Panas Bumi IIGCE Diganti dengan DIIGC

Berita

Selain Kaya Aspal, Buton Utara Juga Memiliki Potensi Panasbumi

Berita

Hentikan Sementara Pekerjaan Infrastruktur, PT SAE Fokus ke Pananganan Lingkungan

Berita

“The 7th IIGCE 2019” Digelar 13-15 Agustus di JCC