Home / Tokoh

Minggu, 1 Oktober 2017 - 12:34 WIB

Subroto, Sempat Ditolak Jadi PETA karena Terlalu Kurus

Prof. Dr. Subroto (geomagzgeologi.esdm.go.id)

PABUMNews – Rambutnya yang putih dengan dasi kupu-kupunya, menjadi salah satu penampilan khas Prof. Dr. Subroto sehingga beda dengan penampilan menteri-menteri lainnya pada saat itu. Selain itu, badannya yang cukup tinggi dan kurus, membuat ia kelihatan gesit.

Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 19 September 1928, laki-laki ini menjadi Menteri Pertambangan dan Energi selama 10 tahun. Dan saat itulah kontribusi Subroto pada pengembangan energi di Indonesia sangat terlihat. Kini Kemen ESDM mengabadikan namanya menjadi penghargaan tertinggi di bidang energi.

Di masa muda, Subroto sempat menjadi tentara. Ada cerita menarik soal badannya yang kurus tersebut, ia ditolak menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) pada saat pendudukan Jepang.
“Saya ditolak masuk PETA karena dianggap terlalu kurus,” katanya seperti dimuat geomagzgeologi.esdm.go.id.

Keinginannya menjadi tentara sangat besar. Ketika ditolak menjadi anggota PETA, ia mendaftar di Akademi Militer (Militaire Academie, MA) dan Sekolah Kader di Yogyakarta. Ia pun diterima. “Lucu ya, masuk PETA ditolak karena terlalu kurus, malah diterima di MA,”katanya.

Angkatan pertama MA berjumlah 197 orang dan Subroto menjadi lulusan Terbaik II. Ia pun menyandang pangkat Letnan II serta dilantik Presiden Soekarno pada 28 November 1948.

Baca Juga  Prijandaru Efendi, Banyak Menimba Pengalaman di Sejumlah Perusahaan

Setelah penyerahan kedaulatan Indonesia dari Pemerintahan Kerajaan Belanda di Jakarta pada 29 Desember 1949, Subroto merasa tugasnya sebagai tentara selesai. Ia mengundurkan diri dari militer dan masuk kuliah di Universitas Indonesia (UI) jurusan ekonomi.

Keterlibatannya di panggung pemerintahan pusat diawali ketika ia dan keempat guru besar ekonomi, yakni Prof. Dr. Widjojo Nitisastro, Prof. Dr. Emil Salim, Prof. Dr. Moh. Sadli, dan Prof. Dr. Ali Wardhana, menjadi Tim Ekonomi untuk pembangunan Indonesia di era Suharto.

Tugas Subroto dan kawan-kawan adalah mengembangkan cetak biru perekonomian Indonesia yang melahirkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita).

Ketika rencana ini selesai pada bulan Maret 1968 dan diserahkan kepada Suharto, Suharto malah berkata Saudara-saudara yang membuat, kenapa tidak saudara yang melaksanakan?

Sejak saat itu Ali Wardhana diangkat menjadi Menteri Keuangan. Subroto menjadi Direktur Jenderal Pemasaran, Departemen Perdagangan yang dipimpin Jenderal Azhari. Kemudian Moh. Sadli setelah ditugasi menyusun Undang-undang Penanaman Modal Asing tahun 1967 diangkat menjadi Menteri Perindustrian. Emil Salim menjadi Menteri Perhubungan. Widjojo Nitisastro mendapat tugas di Bappenas dan beberapa saat kemudian kemudian menjadi menteri.

Subroto dipercaya menjadi Menteri Pertambangan dan Energi Indonesia selama 10 tahun yakni dari tahun 1978 hingga 1988. Ada beberapa catatan penting saat Subroto menjadi Menteri Pertambangan dan Energi. Pertama, lahirnya kebijakan energi nasional (KEN). Kedua lahirnya program Listrik Masuk Desa. Ketiga, mengupayakan sumber energi non minyak seperti tenaga air, panasbumi dan matahari. Keempat, lahirnya kampanye hemat energi. Kelima, perubahan Departemen Pertambangan yang semula hanya Departemen Pertambangan saja menjadi Departemen Pertambangan dan Energi. Perubahan tersebut membuat Perusahaan Listrik Negara (PLN) masuk menjadi bagian Departemen Pertambangan dan Energi.

Baca Juga  Sumatera Utara Tawarkan Pengusahaan Panasbumi kepada Prancis

Subroto juga sempat menjadi Sekjen OPEC (negara-negara penghasil minyak). Pada saat menjadi Sekjen OPECĀ  Subroto mendapat julukan The Wiser Minister Subroto from Indonesia.
Hal ni karena Subroto senantiasa waspada dan teliti agar perkembangan pasar minyak bumi dunia benar-benar memberikan manfaat yang seimbang antara negara produsen dan negara konsumen.

Sikapnya yang senantiasa seimbang dalam menghadapi pertentangan yang keras antara negara-negara OPEC (misalnya antara Arab Saudi dan Iran, antara negaranegara Teluk yang bersikap moderat dan Libya serta Aljazair yang sikapnya keras) menyebabkan para pemimpin negara-negara perminyakan anggota OPEC yang lain semakin menyakini kearifan Menteri Subroto dalam menangani kontroversi antara mereka. (As)

Berita ini 133 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Tokoh

Agus Hermanto: Indonesia Mutlak Memerlukan Energi Panasbumi

Tokoh

Supramu Santosa, Anak Desa yang Sukses Jadi Pengembang Panasbumi

Tokoh

Prajogo Pangestu, “Burung Besar Terbang Tinggi Menguak Awan Mendung”

Tokoh

Yunus Saefulhaq, Sosok Low Profil

Tokoh

Surya Darma, Pererat Indonesia – New Zealand Lewat Panasbumi

Tokoh

Ali Mundakir dan Pekerjaan Besar PGE

Tokoh

Pri Utami, Duta Geothermal Dunia dari Indonesia

Tokoh

Prajogo Pangestu, Pemilik Perusahaan Panasbumi Star Energy, Orang Terkaya Ketiga di Indonesia Tahun 2019