BPPT Fokus Kembangkan Pembangkit Listrik Panasbumi Skala Kecil

BPPT Fokus Kembangkan Pembangkit Listrik Panasbumi Skala Kecil

PLTP binary cycle di PGE Area Lahendong (Dok. ESDM)

PABUMNews- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terus melakukan pengkajian dan pengembangan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) skala kecil untuk kawasan kepulauan Indonesia. Selain untuk lebih mendorong peningkatan pemanfaatan energi bersih di seluruh wilayah Indonesia, PLTP skala kecil juga jarang dilirik pengembang karena dinilai tak ekonomis.

Unggul Priyanto, saat masih menjabat Kepala BPPT, menyatakan, potensi panasbumi di banyak daerah, dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat setempat. Bahkan Unggul menyatakan, potensi geothermal bisa untuk menggantikan energi diesel yang banyak dipakai di pulau-pulau seperti di NTT, NTB atau di Maluku, yang selama ini dirasa kurang memadai.

“Selama ini, pembangkit listrik tenaga panas bumi skala kecil tidak pernah dibangun karena dinilai tidak ekonomis. Padahal apabila dikembangkan, hasilnya akan sangat bermanfaat bagi masyarakat kepulauan. Apalagi jika semua komponen diproduksi oleh perusahaan nasional,” ungkapnya pada acara Bali Clean Energy Forum Tahun 2016 lalu.

PLTP skala kecil yang telah berhasil dikembangkan oleh BPPT di antaranya PLTP 500 Binary Cycle kapasitas 500 kW di Lahendong, Sulawesi Utara, yang kemudian dinamakan PLTP “Merah Putih”. Kemudian PLTP skala kecil di PGE Area Kamojang.

PLTP skala kecil di Lahendong merupakan kerjasama antara BPPT dengan Pusat Riset Ilmu Bumi Jerman Geo Forschungs Zentrum (GFZ) dan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). BPPT terus melakukan perbaikan sehingga PLTP skala kecil ini bisa efektif dan efisien diterapkan di wilayah berpotensi sumber panasbumi di Indonesia.

Wimpie AN. Aspar saat menjadi Plt Kepala BPPT, menyatakan, sebagai negara yang berada di kawasan ring of fire (cincin api), Indonesia memiliki banyak sumber panasbumi termasuk dengan tipe low enthalphy seperti brine di lapangan Lahendong. Hal ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan pemanasan global.

“Dengan melakukan kaji terap teknologi dan membangun berbagai pembangkit yang bersumber energi baru terbarukan atau EBT, BPPT memikul tanggung jawab besar untuk menjadi pionir dalam tataran implementasi teknologi pembangkit listrik yang dalam hal ini memanfaatkan sumber panas bumi dengan menggunakan teknologi binary cycle,” paparnya.

Pada prinsipnya, PLTP skala kecil Lahendong ini memanfaatkan uap panas buangan pembangkit yang ada. Uap panas sisa hasil buangan PLTP di Lahendong yang suhunya mencapai lebih dari 100 derajat Celcius, dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga istrik hingga 500 kW.

Alih teknologi PLTP skala kecil ini sesuai dengan Rencana Induk Riset Nasional(RIRN) 2015-2045, dimana riset diarahkan untuk mendukung pembangunan nasional bertujuan untuk meningkatkan TKDN.

Sementara PLTP skala kecil di Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang berhasil dibangun BPPT adalah PLTP 3 MW. Kepala BPPT Hammam Riza, mengatakan, PLTP skala kecil di Kamojang merupakan pilot plant yang seluruhnya merupakan hasil rancang bangun para perekayasa BPPT.

“Komponen utamanya didesain oleh BPPT dan dimanufaktur oleh industri dalam negeri. TKDN-nya mencapai 70 persen,”tutur Hammam.

Ditegaskan Hammam, “Inovasi Teknologi PLTP Skala Kecil dengan TKDN Maksimal” di BPPT merupakan salah satu program prioritas nasional.

“BPPT mendapat tugas dari Pemerintah untuk menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga panasbumi,” jelasnya. (es)