Mengenal FX Sutijastoto, Dirjen EBTKE Baru

Mengenal FX Sutijastoto, Dirjen EBTKE Baru

FX Sutijastoto (tengah) dilantik menjadi Dirjen EBTKE Kementerian ESDM (foto: esdm)

PABUMNews– Kepala Balitbang ESDM (Badan Penelitian dan Pengembangan Energi Sumber Daya Mineral) FX Sutijastoto, sejak 20 Februari 2019 lalu dilantik menjadi Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE). Ia menggantikan Rida Mulyana yang ditunjuk menjadi Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, menggantikan Andy Noorsaman Sommeng yang pensiun.

Sementara itu, posisi Kepala Balitbang ESDM kini diisi Dadan Kusdiana yang sebelumnya merupakan Staf Ahli Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam ESDM.

Sutijastoto lahir di Denpasar Bali pada 3 Oktober 1960. Lulusan Statistika Institut Pertanian Bogor (IPB) dan S2 Studi Ekonomi Energi di University of Toronto, Kanada ini, memulai karier di Pusat Penelitian dan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) Kementerian ESDM. Sejak tahun 2013, ia dipercaya untuk menakhodai Balitbang ESDM.

Laki-laki kalem ini sempat berkecimpung menggarap modeling pengembangan proyek minyak dan gas (migas) di Tanah Air. Kepada Investor Daily (26 Juli 2013), Sutijastoto menceritakan, modeling itu merupakan metode pembagian dan pengelolaan minyak bumi berdasarkan wilayah. Kemudian, cadangan yang ada diproyeksikan, berapa bisa diproduksi serta proyek tersebut diperkirakan membutuhkan berapa dana investasi.

“Dari keseluruhan proyeksi itu, skema Production Sharing Contract kami juga evaluasi. Berapa share atau pembagian yang ideal. Waktu itu, harga minyak sedang naik-turun. Pada saat harga turun harus ada insentif investasi,” jelasnya saat itu.

Bagi Sutijastoto, energi baru terbarukan bukanlah bidang asing, bahkan boleh disebut merupakan bidangnya. Di Balitbang, ia sempat mengembangkan sejumlah proyek penelitian untuk menghasilkan energi baru yang bisa dimanfaatkan untuk sektor tranportasi. Di antaranya mengembangkan bahan bakar yang bahan bakunya adalah kemiri sunan. Menurutnya, kemiri ini memiliki kandungan minyak hampir setara minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Salah satu keunggulan kemiri, menurut Sutijastoto, bisa tumbuh di daerah gersang maupun area pascatambang. Ia yakin, jika bisa mendapatkan lahan 200 ribu hektare per tahun, maka pada pada 2025, Indonesia bisa memproduksi 200 ribu barel minyak kemiri, setara minyak per hari.

Masih untuk mengurangi penggunaan minyak bumi, Sutijastoto juga mengembangkan pengolahan batubara yang mampu menghasilkan gas. Proyek percontohan pengolahan ini dilakukan dengan menggandeng PT Bukit Asam dan PT Medco di Sumatera Selatan.

Nantinya, gas yang dihasilkan bisa untuk memenuhi kebutuhan petrokimia maupun sektor transportasi.

Perhatian Sutijastoto di bidang pengembangan EBT juga tertuju potensi arus/gelombang laut. Menurutnya, Jawa Timur memiliki laut yang bisa dioptimalkan menjadi energi. Bahkan menurutnya, dengan memaksimalkan pemanfaatan energi arus laut, pemadaman listrik tidak perlu terjadi di Jawa Timur.

“Jawa Timur yang memiliki kemampuan membuat energi baru dan terbarukan (dari laut) mestinya tak perlu khawatir dengan pemadaman listrik,” ujar Sutijastoto (Times Indonesia, Rabu 4 November 2015).

Sebagai Dirjen EBTKE, ada tugas berat di pundak Sutijastoto. Beberapa hari sebelum pelantikan digelar, Menteri ESDM Ignasius Jonan menyatakan pemerintah telah menargetkan bauran EBT sebesar 23% pada bauran energi nasional tahun 2025. Ditegaskannya, EBT berperan penting dalam target peningkatan penyediaan energi yang setara 45 GW pada tahun 2025. EBT juga sangat penting dalam percepatan penyediaan akses energi modern untuk mencapai target rasio elektrifikasi sebesar 97% pada tahun 2025.

“Selain itu, EBT juga memberikan kontribusi sebesar 314 juta ton CO2 dalam program penurunan Gas Rumah Kaca (GRK), dan sebagai pendorong ekonomi hijau. Oleh karenanya, Ditjen EBTKE harus dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal,” kata Menteri Jonan.

Apa yang disampaikan Jonan, kini menjadi tugas Sutijastoto. (es)