Home / Berita

Selasa, 22 Januari 2019 - 11:56 WIB

Usai Diserahkan Jerman, PGE Operasikan PLTP Binary Cycle Lahendong

Sumber foto : ristekdikti.go.id

PABUMNews- PT Pertamina Geothermal Energi (PGE) diserahi tugas mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Binary Cycle 500 Kv Lahendong, Tomohon, Sulawesi Utara. PLTP percontohan yang memanfaatkan uap basah dan uap limbah PLTP konvensional ini, dibangun oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bekerjasama dengan Pemerintah Federal Jerman melalui GeoForschungsZentrum (GFZ) German Research Centre for Geosciences.

Serah terima PLTP Binary Cycle Lahendong dilakukan di lapangan panasbumi Lahendong, Senin (21/1/2019). Hadir dalam kesempatan itu, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Ali Mundakir, Pelaksana Tugas Kepala BPPT Wimpie Agoeng N. Aspar, anggota Komisi VII DPR Bara Hasibuan, Dubes Jerman untuk Indonesia Peter Schoof dan para ilmuwan pusat riset ilmu bumi Jerman, GeoForschungsZentrum (GFZ).

“Kami atas nama pemerintah mengapresiasi setinggi-tingginya kerja sama dengan Jerman ini agar dilanjutkan terus,” kata Mohamad Nasir di sela serah terima PLTP binary cycle Lahendong seperti dirilis Antara (Senin, 21/1/2019).

Baca Juga  Pembangunan PLTP Patuha-2, Maret 2021 Geo Dipa Mobilisasi Alat Pengeboran

Menristekdikti menyatakan, PLTP Siklus Biner Lahendong menjadi langkah awal dalam upaya untuk memanfaatkan energi panasbumi sebagai energi bersih dan berkelanjutan.

PLTP 500 kW Lahendong merupakan sistem smale scale binary cycle plant dengan memanfaatkan uap panasbumi basah yang tidak bisa digunakan PLTP konvensional. PLTP ini pun bisa digunakan untuk memanfaatkan air panas sisa PLTP konvensional. Dengan demikian, selain lebih efisien juga kapasitas pembangkitan bisa bertambah.

Pembangunan dan penyerahan PLTP binary cycle merupakan bagian dari perjanjian antara Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI dengan Kementerian Pendidikan dan Penelitian Federal Jerman (BMBF) yang ditandatangani April 2010 di Denpasar, Bali; serta perjanjian pelaksanaan pengembangan energi panas bumi berkelanjutan di Indonesia antara GFZ dan BPPT yang ditandatangani Juni 2010.

Biaya pembangunan PLTP ini berasal dari pemerintah Jerman sebesar Rp 45 miliar dan dana Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi sebesar Rp 12 miliar.

Baca Juga  Inilah Sebaran PLTP yang Telah Berproduksi di Indonesia

Mohamad Nasir mengatakan, PLTP binary cycle akan terus dikembangkan di antaranya di Kamojang, Jawa Barat, jika prototipe pembangkit listrik yang sudah beroperasi di Lahendong, Tomohon, terbukti menguntungkan.

“Kalau prototipe ini bisa dikomersilkan ke depan akan diterapkan di Kamojang. Juga di Jawa Tengah dan Sumatera,” katanya.

Saat ini Indonesia memiliki kapasitas panasbumi sebesar 1.949,5 MW dan menjadi nomor dua di dunia yang memiliki kapasitas panasbumi terbesar setelah Amerika. PGE sendiri menyumbang 32% dari kapasitas tersebut yang dihasilkan dari 5 area. Total kapasitas terpasang PGE sekarang ini sebesar 617 MW.

Sementara pada 2019, PGE menargetkan untuk dapat menambah kapasitas terpasang sebesar 55 MW dari lapangan panas bumi Lumut Balai, Sumatera Selatan target total kapasitas terpasang PGE menjadi 672 MW. (es)

Berita ini 134 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita

PLN Peroleh Pinjaman Rp 8 Triliun untuk Garap 6 WKP

Berita

IIGCE 2019 Bertema: Menjadikan Panasbumi sebagai Energi Hari Ini

Berita

Pelonggaran DNI Tiga Bidang Sektor Panasbumi Tak Sentuh Akar Masalah

Berita

Dukung Upaya Pemerintah Tangani Covid-19, Geo Dipa Kembali Salurkan Bantuan

Berita

Ketum ADPPI Hasanuddin: “Kepastian Sosial Pengusahaan Panasbumi Tugas Pemerintah”

Berita

PGE Karaha Bagikan Bonus Produksi Panas Bumi untuk Daerah Penghasil

Berita

Bantuan dari PLTP Tak Juga Tiba Masyarakat Merasa “Dibobodo”

Berita

Berkunjung ke Lapangan Panasbumi Suoh Harus Bawa Pemandu, Ini Alasannya